Rabu, 06 Juni 2012

My Ordinary Novel #Part 1

Karena gua suka baca novel, ada dorongan buat diri gue untuk bisa bikin karya sendiri. yang pasti karya itu harus bisa diterima oleh siapa pun, dan tanpa menyinggung pihak manapun. dari situlah gua mencoba membuat sebuah karya yang dapat diterima oleh kalian. semoga kalian suka
"MYVALENTINE" PROLOG
Suasana riuh di dalam kelas,tak membuat perhatian seorang gadis kecil berpaling dari secarik kertas di hadapannya. Dhischa—known as Chacha—tetap duduk manis di kursinya. Tangan mungilnya bergerak lincah menggerakkan sebuah pena. Menggoreskan kata demi kata diatas selembar kertas berwarna ungu muda. Chacha tidak menghiraukan teman-teman sekelasnya yang sedang berfoto ria atau pun saling mengisi buku kenangan.
Ujian memang telah usai, kini para siswa kelas 6 di sekolahnya sudah terbebas dari pelajaran. Mereka datang ke sekolah hanya untuk mempersiapkan acara wisuda yang akan diadakan minggu depan.
Fokus Chacha tidak terpecahkan. Mata coklatnya yang indah masih terpaku pada satu titik di depannya. Chacha sedang menulis surat untuk seseorang yang sudah setahun belakangan ini mengisi hidupnya.
Membuat hari-harinya lebih indah dan berwarna, serta membuatnya tidak merasa kesepian. Tak berapa lama, tangan mungilnya berhenti meliuk-liuk di atas kertas. Chacha menghembuskan napas panjang. Sekilas ia melihat tulisannya di secarik kertas yang berada tepat di hadapannya.
Senyum tipis tersungging di bibir mungilnya. Kemudian, matanya menyusuri deretan huruf di kertas tersebut.
Pangeran Kodok.... Mungkin waktu kita untuk bersama sudah tak lama lagi.
Seminggu lagi acara wisuda akan dilaksanakan.
Berarti waktuku untuk tinggal di kota ini hanya tinggal menghitung hari.
Minggu depan seusai acara wisuda, Chacha dan Papa akan pindah ke Jakarta.
Papa membuka cabang perusahaan barunya di sana.
Dan rencananya perusahan itu akan menjadi kantor pusat dari cabang-cabang perusahaan Papa sebelumnya.
Makanya, Chacha sangat ingin bertemu dengan Pangeran Kodok.
Mungkin bukan pertemuan yang pertama bagi Pangeran Kodok, tapi itu akan menjadi pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhir kita. ( Chacha berharap itu bukan pertemuan yang terakhir  ).
Jadi, kalau bisa tolong penuhi permintaan Chacha yang satu ini.
Chacha tau, ini bukanlah hal yang mudah untuk diterima.
Kalau boleh jujur, Chacha ingin bisa lebih lama tinggal di kota ini. Bisa mengenal Pangeran Kodok lebih dekat dan menghabiskan waktu bersama.
Tapi, Chacha sadar itu merupakan hal yang mustahil. Chacha minta maaf karena tidak bisa lebih lama lagi tinggal di kota ini.
Chacha harap Pangeran Kodok bisa mengerti. Terima kasih atas perhatian yang selalu Pangeran Kodok berikan pada Chacha.
Terima kasih atas semua hadiah dan ketulusan hati Pangeran Kodok. Chacha hanya bisa bilang kalau Chacha sangat beruntung memiliki seseorang seperti Pangeran Kodok. Sekali lagi, terima kasih banyak 
Salam Manis,
-Putri Kelinci-

Senyum Chacha mengembang saat membaca ulang surat yang ditulisnya untuk Pangeran Kodok. Ia melipatnya. Sangat hati-hati. Ia tidak akan membiarkan surat yang khusus dibuatnya dengan sepenuh hati itu lecek sedikitpun. Kemudian ia memasukkannya ke dalam amplop ungu bergambar Kelinci.
Sambil memandang surat tersebut, Chacha memutar ingatannya pada pagi hari saat Ulang Tahunnya yang ke-11, satu setengah tahun lalu tepatnya pada tanggal 14 Februari 2009.... Saat itu, pada pagi hari ketika Chacha tiba di ruang kelasnya seperti biasanya, ia menemukan sesuatu yang asing tergeletak di atas mejanya. Sebuah kotak kado! Chacha segera membukanya. Betapa kaget dirinya, saat menemukan sebuah buku diary berwarna ungu muda dengan gambar kelinci di tengahnya. Ketika ia mengangkat buku diary tersebut, matanya melihat sebuah surat yang tersembunyi si belakang diary itu. Ia membaca surat itu dengan seksama. Berusaha mencari tahu siapakah orang yang telah memberikannya sebuah buku diary.
Namun, ia tidak menemukannya. Chacha malah semakin bingung setelah selesai membaca isi surat tersebut. Isi suratnya hanya singkat.
Happy Birthday, Putri Kelinciku.....
Semoga kamu selalu bahagia dan tersenyum menjalani Hari-hari yang menyenangkan bersama Papa-mu.
Yang selalu memperhatikanmu,
-Pangeran Kodok-
Kening Chacha semakin mengkerut ketika membaca nama pengirimnya. Pangeran Kodok? Siapa dia? Dan kenapa dia manggil gue Putri Kelinci? Aneh! Pikir Chacha. Awalnya Chacha tidak terlalu mempedulikan siapa cowok misterius itu—Chacha sangat yakin kalau si Pangeran Kodok itu pasti seorang anak laki-laki, walaupun Chacha belum pernah bertemu dengannya.
, sebulan kemudian, ia kembali menemukan sebuah kado diatas mejanya seperti sebulan yang lalu. Ketika Chacha membukanya, ia sedikit terkejut. Ternyata si “Pangeran Kodok” yang memberikan kado tersebut. Setiap bulannya, hingga saat ini tepat pada tanggal 14 Chacha selalu menemukan sebuah kado di atas mejanya ketika ia sampai di kelasnya. Dan di setiap kado tersebut, pasti terdapat secarik surat yang ditulis oleh Pangeran Kodok untuknya.
Setelah membaca surat dari Pangeraan Kodok, hati Chacha terasa tenang, damai, dan tentram. Surat itu bagaikan penyejuk hatinya dan mampu menghilangkan perasaan sepi yang selau dirasakannya. Chacha sudah bertekad bahwa ia harus menyampaikan suratnya pada Pangeran Kodok. Hari ini tanggal 13 Juni. Chacha yakin, ia akan mendapatkan kembali sebuah hadiah dari Pangeran Kodok esok hari, tepatnya pada tanggal 14 Juni. Makanya surat yang ditulisnya itu harus dibaca oleh Pangeran Kodok hari ini juga. Makanya nanti sepulang sekolah ia akan menunggu sampai kelasnya sepi, baru ia akan menaruh surat itu tepat di atas mejanya.

=> TO BE CONTINUE

1 komentar:

  1. haha.. novelnya masih ada kelanjutannya. kalo penasaran, tunggu gua ngepost lagi, ya!

    BalasHapus

 

Dear My Dee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea