Saat yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Bel pulang berdentang dengan riangnya. Tanda para siswa sudah diperbolehkan untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Chacha segera merapikan alat-alat tulisnya yang masih berserakkan di atas meja. Dimasukkannya semua itu kedalam tempat pensil ungu bergambar kelinci kesukaannya.
Chacha sudah siap. Tas sekolahnya sudah bertengger dengan manis di atas pundaknya. Ketua kelasnya segera memberikan aba-aba untuk berdo’a. Selesai berdo’a teman-teman sekelasnya berbondong-bondong keluar kelas setelah sebelumnya memberikan salam perpisahan kepada wali kelas meraka, yaitu Bu Inggrid.
“Cha, kok kamu nggak pulang? Kan udah bel,” tanya salah seorang teman Chacha. Saat itu ia melihat Chacha duduk kembali setelah memberikan salam kepada Bu Inggrid.
“nggak, ntar aja.”, jawab Chacha sambil tersenyum tipis.
“Oh, yaudah. Kalo gitu, aku duluan, ya!”, pamit temannya itu sambil melambaikan tangan ke arah Chacha. Chacha membalas lambaian tangan tersebut.
Lima belas menit telah berlalu. Kelas Chacha sudah benar-benar kosong. Tak ada satu orang penghuni pun yang ada di dalamnya, kecuali Chacha tentunya.
Setelah memastikan tak ada siapa pun yang melihat, Chacha meletakkan surat yang telah di tulisnya tadi di ata mejanya. Kemudian ia melenggang keluar kelas dengan senyum yang merekah di bibirnya.
***

