“Hai. Makasih, ya, Tia... Ra,”
senyumku langsung lenyap saat menyadari orang itu bukan Tiara, melainkan
Erlang. Anak baru yang terkena lemparan sepatuku dan kemungkinan besar ia
pulalah orang yang menyebabkanku terbaring disini karena dia satu-satunya orang
yang tadi di lapangan basket indoor sedang bermain basket.
Aku
menatapnya tajam sekilas sebelum membuang muka setelahnya. Walaupun sikapku
kurang bersahabat ia tetap duduk di samping ranjangku dan meletakkan segelas
teh manis hangat di meja sebelah ranjangku yang baru saja dibuatnya.
Bila
dia tetap menemaniku dengan duduk di samping ranjangku, aku juga tetap
mempertahankan mukaku agar tidak menoleh kepadanya. Aku sudah sangat kesal dan
marah terhadapnya.

