Kamis, 07 Maret 2013

SEPATU TERBANG VERSUS BASKET MELAYANG #PART 5


            “Hai. Makasih, ya, Tia... Ra,” senyumku langsung lenyap saat menyadari orang itu bukan Tiara, melainkan Erlang. Anak baru yang terkena lemparan sepatuku dan kemungkinan besar ia pulalah orang yang menyebabkanku terbaring disini karena dia satu-satunya orang yang tadi di lapangan basket indoor sedang bermain basket.
Aku menatapnya tajam sekilas sebelum membuang muka setelahnya. Walaupun sikapku kurang bersahabat ia tetap duduk di samping ranjangku dan meletakkan segelas teh manis hangat di meja sebelah ranjangku  yang baru saja dibuatnya.
Bila dia tetap menemaniku dengan duduk di samping ranjangku, aku juga tetap mempertahankan mukaku agar tidak menoleh kepadanya. Aku sudah sangat kesal dan marah terhadapnya.
Pertama, aku sudah berusaha meminta maaf kepadanya karena peristiwa sepatu terbang tadi pagi, tetapi dia mengacuhkanku dan meninggalkanku dengan wajah bodoh di tengah lapangan. Kedua, aku tetap berusaha meminta maaf sekali lagi kepadanya, SEKALI LAGI karena merasa bersalah, tapi dia malah melemparku dengan bola basket yang besar itu ke wajahku sehingga membuatku pingsan dan terbaring disini. Dasar cowok menyebalkan!
“Aku minta maaf,” ujarnya. Aku masih tidak memedulikannya dengan tetap memasang wajah angkuh dan memalingkan wajah darinya. Aku merasa ucapannya barusan tidak tulus. Masa orang minta maaf bicaranya ketus seperti itu? Tidak tahu sopan santun.
“Aku minta maaf, Dhiya,” kali ini ia berbicara dengan lebih lembut terutama saat mengucapkan namaku. Aku tak menyangka ia tahu namaku. Tetapi,  saat ini itu bukan hal yang penting untuk dibahas. yang terpenting ia harus minta maaf dahulu kepadaku.
Saat mendengarnya menyebut namaku dengan penuh kelembutan, tembok keangkuhan yang sudah kubangun, perlahan tapi pasti roboh. Suaranya itu terdengar sangat lirih dan penuh penyesalan.
Secara perlahan, aku menolehkan wajah kearahnya yang tepat duduk di samping ranjangku. Wajahnya terlihat cemas. Peluh membasahi keningnya. Selain itu, kurasakan napasnya memburu, meskipun aku tak tahu mengapa.
Erlang menatapku tepat di kedua manik mataku. Aku pun balas menatapnya tepat di kedua bola mata hitam miliknya. Dengan sisa-sisa keangkuhan yang masih aku miliki aku berkata dengan sinis kepadanya.
“Oh, jadi seperti ini, ya caramu membalas timpukan sepatuku? Dengan melempar bola basket tepat kearah wajahku. Hebat!”
“Hei. Aku tidak bermaksud seperti itu. Tadi itu...” Erlang membalas perkataan sinisku dengan keras, namun sebelum ucapannya selesai aku memotongnya.
“Tadi itu apa? Ha? Jawab!” emosiku tersulut ketika tadi Erlang membentakku sehingga aku balas membentaknya. Seharusnya dia tidak membentakku. Kan dia yang salah, bukan aku.
Menyaksikan emosiku yang meluap-luap, Erlang menatapku sesaat kemudian diam membisu.
“Kenapa diam? Tidak bisa menjawab, kan?” tanyaku sengit. Erlang tetap diam. Ia tidak membalas perkataanku seperti sebelumnya.
“Erlang, kenapa harus seperti ini? kamu tidak perlu membalas lemparan sepatuku dengan bola basket. Bukan seperti ini penyelesaiannya, Lang. Aku sudah berusaha minta maaf ke kamu atas peristiwa tadi pagi, tapi kamu tidak memedulikannya. Saat aku berusaha yang kedua kalinya untuk minta maaf ke kamu, kamu melemparku dengan bola basket,”aku berhenti sejenak untuk menarik napas. “Aku rasa aku tak perlu berusaha meminta maaf lagi ke kamu karena semuanya percuma. Cowok seperti kamu tidak akan pernah bisa memaafkan seseorang yang sudah jelas-jelas berusaha meminta maaf ke kamu atas kesalan yang diperbuatnya karena kamu cowok yang childish.”
Hmmm.. kayanya Dhiya marah plus kecewa banget ya sama Erlang. Tapi, gimana ya tanggapan Erlang ngeliat Dhiya yg emosinya lagi meluap-luap? Tunggu aja kelanjutannya! B)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Dear My Dee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea