“Hai. Makasih, ya, Tia... Ra,”
senyumku langsung lenyap saat menyadari orang itu bukan Tiara, melainkan
Erlang. Anak baru yang terkena lemparan sepatuku dan kemungkinan besar ia
pulalah orang yang menyebabkanku terbaring disini karena dia satu-satunya orang
yang tadi di lapangan basket indoor sedang bermain basket.
Aku
menatapnya tajam sekilas sebelum membuang muka setelahnya. Walaupun sikapku
kurang bersahabat ia tetap duduk di samping ranjangku dan meletakkan segelas
teh manis hangat di meja sebelah ranjangku yang baru saja dibuatnya.
Bila
dia tetap menemaniku dengan duduk di samping ranjangku, aku juga tetap
mempertahankan mukaku agar tidak menoleh kepadanya. Aku sudah sangat kesal dan
marah terhadapnya.
Pertama, aku sudah berusaha meminta maaf kepadanya karena
peristiwa sepatu terbang tadi pagi, tetapi dia mengacuhkanku dan meninggalkanku
dengan wajah bodoh di tengah lapangan. Kedua, aku tetap berusaha meminta maaf sekali
lagi kepadanya, SEKALI LAGI karena merasa bersalah, tapi dia malah melemparku
dengan bola basket yang besar itu ke wajahku sehingga membuatku pingsan dan
terbaring disini. Dasar cowok menyebalkan!
“Aku
minta maaf,” ujarnya. Aku masih tidak memedulikannya dengan tetap memasang
wajah angkuh dan memalingkan wajah darinya. Aku merasa ucapannya barusan tidak
tulus. Masa orang minta maaf bicaranya ketus seperti itu? Tidak tahu sopan
santun.
“Aku
minta maaf, Dhiya,” kali ini ia berbicara dengan lebih lembut terutama saat
mengucapkan namaku. Aku tak menyangka ia tahu namaku. Tetapi, saat ini itu bukan hal yang penting untuk dibahas.
yang terpenting ia harus minta maaf dahulu kepadaku.
Saat
mendengarnya menyebut namaku dengan penuh kelembutan, tembok keangkuhan yang
sudah kubangun, perlahan tapi pasti roboh. Suaranya itu terdengar sangat lirih
dan penuh penyesalan.
Secara
perlahan, aku menolehkan wajah kearahnya yang tepat duduk di samping ranjangku.
Wajahnya terlihat cemas. Peluh membasahi keningnya. Selain itu, kurasakan
napasnya memburu, meskipun aku tak tahu mengapa.
Erlang
menatapku tepat di kedua manik mataku. Aku pun balas menatapnya tepat di kedua
bola mata hitam miliknya. Dengan sisa-sisa keangkuhan yang masih aku miliki aku
berkata dengan sinis kepadanya.
“Oh,
jadi seperti ini, ya caramu membalas timpukan sepatuku? Dengan melempar bola
basket tepat kearah wajahku. Hebat!”
“Hei.
Aku tidak bermaksud seperti itu. Tadi itu...” Erlang membalas perkataan sinisku
dengan keras, namun sebelum ucapannya selesai aku memotongnya.
“Tadi
itu apa? Ha? Jawab!” emosiku tersulut ketika tadi Erlang membentakku sehingga
aku balas membentaknya. Seharusnya dia tidak membentakku. Kan dia yang salah,
bukan aku.
Menyaksikan
emosiku yang meluap-luap, Erlang menatapku sesaat kemudian diam membisu.
“Kenapa
diam? Tidak bisa menjawab, kan?” tanyaku sengit. Erlang tetap diam. Ia tidak
membalas perkataanku seperti sebelumnya.
“Erlang,
kenapa harus seperti ini? kamu tidak perlu membalas lemparan sepatuku dengan
bola basket. Bukan seperti ini penyelesaiannya, Lang. Aku sudah berusaha minta
maaf ke kamu atas peristiwa tadi pagi, tapi kamu tidak memedulikannya. Saat aku
berusaha yang kedua kalinya untuk minta maaf ke kamu, kamu melemparku dengan
bola basket,”aku berhenti sejenak untuk menarik napas. “Aku rasa aku tak perlu
berusaha meminta maaf lagi ke kamu karena semuanya percuma. Cowok seperti kamu
tidak akan pernah bisa memaafkan seseorang yang sudah jelas-jelas berusaha
meminta maaf ke kamu atas kesalan yang diperbuatnya karena kamu cowok yang childish.”
Hmmm.. kayanya Dhiya marah plus kecewa banget ya sama Erlang. Tapi, gimana ya tanggapan Erlang ngeliat Dhiya yg emosinya lagi meluap-luap? Tunggu aja kelanjutannya! B)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar