“Aku
rasa aku tak perlu berusaha meminta maaf lagi ke kamu karena semuanya percuma.
Cowok seperti kamu tidak akan pernah bisa memaafkan seseorang yang sudah
jelas-jelas berusaha meminta maaf ke kamu atas kesalan yang diperbuatnya karena
kamu cowok yang childish.”
Setelah
meluapkan seluruh kekesalan dan kejengkelanku terhadapnya, aku memalingkan muka
darinya. Aku tidak mau berurusan lagi dengan Erlang. Lihat saja, aku sudah
bicara panjang lebar, tapi ia diam saja. Dasar tidak peka.
Waktu
berputar sangat cepat. Tanpa kami sadari, sudah sepuluh menit kami melakukan
aksi diam-diaman. Setelah aku berbicara panjang lebar tadi, kami berdua
sama-sama enggan membuka pembicaraan.
Aku
merasa tak sudi mengeluarkan suara emasku hanya untuk berbicara dengan cowok childish
seperti Erlang. Selain membuang waktu dan tenagaku yang baru saja pulih,
bisa-bisa aku naik darah lagi melihat wajah innocent-nya itu.
“Aku
minta maaf, Dhi. Aku tahu aku salah sama kamu, jadi aku minta maaf. Tapi kalau
kamu memang tidak bisa memaafkanku, tak apa. Aku mengerti,” Akhirnya si Erlang
itu membuka suaranya juga. Kali ini lebih lirih daripada permintaan maaf yang
sebelumnya saat pertama kali ia menyebut namaku.Refleks,
aku menolehkan kepalaku kearahnya.

