“Aku
rasa aku tak perlu berusaha meminta maaf lagi ke kamu karena semuanya percuma.
Cowok seperti kamu tidak akan pernah bisa memaafkan seseorang yang sudah
jelas-jelas berusaha meminta maaf ke kamu atas kesalan yang diperbuatnya karena
kamu cowok yang childish.”
Setelah
meluapkan seluruh kekesalan dan kejengkelanku terhadapnya, aku memalingkan muka
darinya. Aku tidak mau berurusan lagi dengan Erlang. Lihat saja, aku sudah
bicara panjang lebar, tapi ia diam saja. Dasar tidak peka.
Waktu
berputar sangat cepat. Tanpa kami sadari, sudah sepuluh menit kami melakukan
aksi diam-diaman. Setelah aku berbicara panjang lebar tadi, kami berdua
sama-sama enggan membuka pembicaraan.
Aku
merasa tak sudi mengeluarkan suara emasku hanya untuk berbicara dengan cowok childish
seperti Erlang. Selain membuang waktu dan tenagaku yang baru saja pulih,
bisa-bisa aku naik darah lagi melihat wajah innocent-nya itu.
“Aku
minta maaf, Dhi. Aku tahu aku salah sama kamu, jadi aku minta maaf. Tapi kalau
kamu memang tidak bisa memaafkanku, tak apa. Aku mengerti,” Akhirnya si Erlang
itu membuka suaranya juga. Kali ini lebih lirih daripada permintaan maaf yang
sebelumnya saat pertama kali ia menyebut namaku.Refleks,
aku menolehkan kepalaku kearahnya.
Saat aku memandang wajahnya, Erlang hanya
menunduk, tak berani menatapku. Melihatnya seperti itu, entah mengapa mampu membakar
habis seluruh emosiku terhadapnya. Dan ketika aku membuka suara, nada suaraku
tidak seketus sebelumnya. Kali ini aku berbicara padanya tanpa rasa emosi.
“Kalau
kamu memang berniat meminta maaf padaku, kamu harus menatap mataku. Kalau kamu
terus menundukkan kepala seperti itu, aku tidak yakin kalau kamu tulus meminta
maaf padaku,” tantangku pada Erlang. Habis orang ini terus saja membuatku keki.
Kalau dia menundukkan kepala saat aku bicara padanya, nanti kalau ada salah
seorang temanku yang melihat dari luar jendela, aku bisa dikira orang aneh
karena bicara sendiri. Tidak. Aku tidak mau mempermalukan diriku lagi. Tidak
untuk yang kedua kalinya pada hari yang sama.
Setelah
aku berkata demikian, Erlang mendongakkan kepalanya. Ia balas mentapku dan
berkata, “Dhiya, aku tulus minta maaf padamu, bukannya berpura-pura,”
“ Aku bukannya tidak ingin memaafkanmu, Lang.
Aku hanya kesal dengan sikapmu itu. Terutama saat kamu memasang wajah tak
bersalahmu itu padahal sudah jelas kamu bersalah,” ujarku datar setelah ia
balas menatapku dan meyakinkanku bahwa permintaan maafnya padaku merupakan
sesuatu yang tulus bukan sebuah kepura-puraan.
“Aku
tahu, Dhi, dan sadar akan hal itu. Aku hanya tidak menyangka akan bertemu
kembali denganmu di sekolah ini,” ujar Erlang sambil menatapku tajam tepat di
kedua mataku.
“Ma..
Maksud kamu apa, Lang? Bertemu kembali
denganku? Memangnya sebelum ini kita pernah bertemu? Kamu kan anak baru di
sekolahku, jadi aku merasa tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya,” kataku.
Aku merasa aneh saat Erlang berkata dia pernah bertemu denganku. Dan sesaat
setelah aku mengucapkan hal itu, mata Erlang berkilat penuh kekecewaan. Aku
tambah bingung dengan sikapnya itu.
“Ternyata
dugaanku benar. Kamu tidak mengenaliku. Aku Eang, Dhi. Teman kecil kamu dulu,”
Erlang berkata pelan. Nyaris seperti hembusan angin. Untung saja suasana dalam
UKS hening sehingga aku bisa mendengar suaranya.
Perkataan
Erlang bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Mengejutkanku. Aku hanya
terdiam membeku setelah pengakuan Erlang. Pikiranku kosong. Kedua tanganku
mencengkram seprai yang menutupi ranjang dengan kuat hingga buku-buku jariku
memutih.
Eang?
Dia Eang? Teman kecilku yang begitu kurindukan. Yang membuatku enggan menjalin
sebuah persahabatan setelah kepergiannya yang begitu mendadak.
Perasaanku
saat ini begitu campur aduk. Aku belum bisa percaya sepenuhnya kalau Erlang
adalah teman kecilku. Tetapi, sebuah kesadaran meyakinkanku bahwa Erlang Wiratama—anak
baru di sekolahku—dan Eang—teman kecilku yang telah menghilang—merupakan orang
yang sama.
Nama
keduanya begitu mirip. Erlang dan Eang. Ketika kalian kecil, pasti kalian sulit
mengucapkan nama yang terdapat huru R-nya, kan? Jadi, saat kecil Erlang
memanggil dirinya Eang karena tidak bisa mengucapkan huruf R. Semua itu bukan
hal yang aneh, kan?
Waktu
kecil, aku pun tidak memanggil diriku Dhiya, melainkan Dede karena aku anak
bungsu. Baru saat aku tumbuh semakin besar, aku mulai meniggalkan nama kecilku.
Tetapi, banyak dari saudaku maupun orang-orang yang sudah mengenalku dari aku
kecil tetap memanggilku Dede karena sudah terbiasa.
Setelah
perasaanku sudah lebih terkontrol dan kenyataan itu meresap memasuki diriku,
aku berkata pada Erlang yang sedari tadi diam membisu, memberiku kesempatan
untuk mencerna semua kenyataan yang sangat mengejutkanku dan tak terduga ini.
“Kalau
kamu memang sudah tahu aku ini teman kecilmu, kenapa kamu tidak menegurku,
tetapi kamu malah melemparkan sepatu kedsku dengan kasar padahal aku kan sudah
minta maaf padamu?” tanyaku. Kali ini aku sedikit menarik bibirku membuat
senyuman kecil kearahnya.
Erlang
agak tertegun saat melihatku tersenyum kecil kearahnya, kemudian ia tersenyum
balik ke arahku sebelum menjelasakan alasannya. “Aku terkejut saat bertemu lagi
denganmu. Sebelum peristiwa tadi pagi di lapangan sekolah, sebenarnya aku sudah
melihatmu, tetapi aku tidak mengenalimu karena aku melihatmu dari kejahuan saat
kamu duduk termenung sendiri di pinggir lapangan.”
Aku
tersenyum kecil ke Erlang ketika cowok itu menghentikan penjelasannya untuk
mengambil napas. Pagi itu, saat aku melamun seorang diri di pinggir lapangan
sepak bola, aku sedang membayangkan sosoknya bahkan sampai menitikkan air mata.
Tapi, Erlang tak perlu tahu hal itu. Bisa-bisa ia besar kepala.
Setelah
menghirup napas sejenak, Erlang melanjutkan, “Aku baru mengenalimu saat kamu
berjalan kearahku sambil meminta maaf. Awalnya aku tidak begitu yakin kalau
cewek yang sedang berjalan kearahku adalah Dede, teman masa kecilku. Tetapi,
satu hal yang membuatku yakin kamu adalah teman kecilku. Kamu tahu apa itu,
Dhi?” Erlang melontarkan pertanyaan kearahku. Tetapi aku hanya menggelengkan
kepala.
“Aku yakin kamu itu teman kecilku saat aku
melihat kalung dengan liontin kelinci yang kamu pakai saati ini,” ujar Erlang
sambil memerhatikan leherku, tempat liontin itu menggantung dengan manisnya.
Hmm... Liontin Kelinci. So Sweet ya... :) <3 Bagaimana kisah dibalik liontin itu? Mau tau kan? ikutin aja kelanjutannya di #PART 7. XOXO


Tidak ada komentar:
Posting Komentar