Selasa, 21 Mei 2013

SEPATU TERBANG VERSUS BASKET MELAYANG #PART 6


“Aku rasa aku tak perlu berusaha meminta maaf lagi ke kamu karena semuanya percuma. Cowok seperti kamu tidak akan pernah bisa memaafkan seseorang yang sudah jelas-jelas berusaha meminta maaf ke kamu atas kesalan yang diperbuatnya karena kamu cowok yang childish.”
Setelah meluapkan seluruh kekesalan dan kejengkelanku terhadapnya, aku memalingkan muka darinya. Aku tidak mau berurusan lagi dengan Erlang. Lihat saja, aku sudah bicara panjang lebar, tapi ia diam saja. Dasar tidak peka.
Waktu berputar sangat cepat. Tanpa kami sadari, sudah sepuluh menit kami melakukan aksi diam-diaman. Setelah aku berbicara panjang lebar tadi, kami berdua sama-sama enggan membuka pembicaraan.
Aku merasa tak sudi mengeluarkan suara emasku hanya untuk berbicara dengan cowok childish seperti Erlang. Selain membuang waktu dan tenagaku yang baru saja pulih, bisa-bisa aku naik darah lagi melihat wajah innocent-nya itu.
“Aku minta maaf, Dhi. Aku tahu aku salah sama kamu, jadi aku minta maaf. Tapi kalau kamu memang tidak bisa memaafkanku, tak apa. Aku mengerti,” Akhirnya si Erlang itu membuka suaranya juga. Kali ini lebih lirih daripada permintaan maaf yang sebelumnya saat pertama kali ia menyebut namaku.Refleks, aku menolehkan kepalaku kearahnya. 

Saat aku memandang wajahnya, Erlang hanya menunduk, tak berani menatapku. Melihatnya seperti itu, entah mengapa mampu membakar habis seluruh emosiku terhadapnya. Dan ketika aku membuka suara, nada suaraku tidak seketus sebelumnya. Kali ini aku berbicara padanya tanpa rasa emosi.
“Kalau kamu memang berniat meminta maaf padaku, kamu harus menatap mataku. Kalau kamu terus menundukkan kepala seperti itu, aku tidak yakin kalau kamu tulus meminta maaf padaku,” tantangku pada Erlang. Habis orang ini terus saja membuatku keki. Kalau dia menundukkan kepala saat aku bicara padanya, nanti kalau ada salah seorang temanku yang melihat dari luar jendela, aku bisa dikira orang aneh karena bicara sendiri. Tidak. Aku tidak mau mempermalukan diriku lagi. Tidak untuk yang kedua kalinya pada hari yang sama.
Setelah aku berkata demikian, Erlang mendongakkan kepalanya. Ia balas mentapku dan berkata, “Dhiya, aku tulus minta maaf padamu, bukannya berpura-pura,”
 “ Aku bukannya tidak ingin memaafkanmu, Lang. Aku hanya kesal dengan sikapmu itu. Terutama saat kamu memasang wajah tak bersalahmu itu padahal sudah jelas kamu bersalah,” ujarku datar setelah ia balas menatapku dan meyakinkanku bahwa permintaan maafnya padaku merupakan sesuatu yang tulus bukan sebuah kepura-puraan.
“Aku tahu, Dhi, dan sadar akan hal itu. Aku hanya tidak menyangka akan bertemu kembali denganmu di sekolah ini,” ujar Erlang sambil menatapku tajam tepat di kedua mataku.
“Ma.. Maksud  kamu apa, Lang? Bertemu kembali denganku? Memangnya sebelum ini kita pernah bertemu? Kamu kan anak baru di sekolahku, jadi aku merasa tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya,” kataku. Aku merasa aneh saat Erlang berkata dia pernah bertemu denganku. Dan sesaat setelah aku mengucapkan hal itu, mata Erlang berkilat penuh kekecewaan. Aku tambah bingung dengan sikapnya itu.
“Ternyata dugaanku benar. Kamu tidak mengenaliku. Aku Eang, Dhi. Teman kecil kamu dulu,” Erlang berkata pelan. Nyaris seperti hembusan angin. Untung saja suasana dalam UKS hening sehingga aku bisa mendengar suaranya.
Perkataan Erlang bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Mengejutkanku. Aku hanya terdiam membeku setelah pengakuan Erlang. Pikiranku kosong. Kedua tanganku mencengkram seprai yang menutupi ranjang dengan kuat hingga buku-buku jariku memutih.
Eang? Dia Eang? Teman kecilku yang begitu kurindukan. Yang membuatku enggan menjalin sebuah persahabatan setelah kepergiannya yang begitu mendadak.
Perasaanku saat ini begitu campur aduk. Aku belum bisa percaya sepenuhnya kalau Erlang adalah teman kecilku. Tetapi, sebuah kesadaran meyakinkanku bahwa Erlang Wiratama—anak baru di sekolahku—dan Eang—teman kecilku yang telah menghilang—merupakan orang yang sama.
Nama keduanya begitu mirip. Erlang dan Eang. Ketika kalian kecil, pasti kalian sulit mengucapkan nama yang terdapat huru R-nya, kan? Jadi, saat kecil Erlang memanggil dirinya Eang karena tidak bisa mengucapkan huruf R. Semua itu bukan hal yang aneh, kan?
Waktu kecil, aku pun tidak memanggil diriku Dhiya, melainkan Dede karena aku anak bungsu. Baru saat aku tumbuh semakin besar, aku mulai meniggalkan nama kecilku. Tetapi, banyak dari saudaku maupun orang-orang yang sudah mengenalku dari aku kecil tetap memanggilku Dede karena sudah terbiasa.
Setelah perasaanku sudah lebih terkontrol dan kenyataan itu meresap memasuki diriku, aku berkata pada Erlang yang sedari tadi diam membisu, memberiku kesempatan untuk mencerna semua kenyataan yang sangat mengejutkanku dan tak terduga ini.
“Kalau kamu memang sudah tahu aku ini teman kecilmu, kenapa kamu tidak menegurku, tetapi kamu malah melemparkan sepatu kedsku dengan kasar padahal aku kan sudah minta maaf padamu?” tanyaku. Kali ini aku sedikit menarik bibirku membuat senyuman kecil kearahnya.
Erlang agak tertegun saat melihatku tersenyum kecil kearahnya, kemudian ia tersenyum balik ke arahku sebelum menjelasakan alasannya. “Aku terkejut saat bertemu lagi denganmu. Sebelum peristiwa tadi pagi di lapangan sekolah, sebenarnya aku sudah melihatmu, tetapi aku tidak mengenalimu karena aku melihatmu dari kejahuan saat kamu duduk termenung sendiri di pinggir lapangan.”
Aku tersenyum kecil ke Erlang ketika cowok itu menghentikan penjelasannya untuk mengambil napas. Pagi itu, saat aku melamun seorang diri di pinggir lapangan sepak bola, aku sedang membayangkan sosoknya bahkan sampai menitikkan air mata. Tapi, Erlang tak perlu tahu hal itu. Bisa-bisa ia besar kepala.
Setelah menghirup napas sejenak, Erlang melanjutkan, “Aku baru mengenalimu saat kamu berjalan kearahku sambil meminta maaf. Awalnya aku tidak begitu yakin kalau cewek yang sedang berjalan kearahku adalah Dede, teman masa kecilku. Tetapi, satu hal yang membuatku yakin kamu adalah teman kecilku. Kamu tahu apa itu, Dhi?” Erlang melontarkan pertanyaan kearahku. Tetapi aku hanya menggelengkan kepala.
“Aku yakin kamu itu teman kecilku saat aku melihat kalung dengan liontin kelinci yang kamu pakai saati ini,” ujar Erlang sambil memerhatikan leherku, tempat liontin itu menggantung dengan manisnya.

Hmm... Liontin Kelinci. So Sweet ya... :) <3 Bagaimana kisah dibalik liontin itu? Mau tau kan? ikutin aja kelanjutannya di #PART 7. XOXO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Dear My Dee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea