Selasa, 15 Januari 2013

SEPATU TERBANG VERSUS BASKET MELAYANG #PART 1


               Mentari pagi bersinar dengan teriknya. Kicauan burung pipit terdengar saling bersahutan. Suasana pagi hari yang sungguh damai. Menenangkan jiwa. Pagi ini, aku tengah duduk seorang diri di pinggir lapangan sepak bola sekolah. Menyaksikan teman-temanku bermain sepak bola. Mereka berlari mengejar bola dan tertawa  riang, seakan melepaskan kepenatan selama satu minggu penuh berkutat dengan pelajaran yang sangat menjenuhkan.
Menyaksikan mereka bermain sepak bola dengan riangnya, membuka kembali ingatan masa laluku. Masa-masa terindah dalam memori masa kecilku. Tujuh tahun silam, aku juga sering bermain sepak bola. Berlari mengejar si Kulit Bundar, mengumpan, dan mencetak gol ke gawang. Senyum dan tawa tak pernah lepas dari wajahku saat aku memainkan benda bulat pepat itu.
Ingatan itu bukan hanya memutar memoriku tantang sepak bola. Namun, ingatan itu juga memunculkan kembali sebentuk wajah seorang anak laki-laki yang selalu menemaniku bermain sepak bola. Ia sedang tersenyum nakal sambil menaikkan sebelah alisnya. Wajah yang sangat aku rindukan hingga saat ini. Wajah yang hampir setiap hari menjadi bunga tidurku beberapa tahun silam. Kini, wajah itu juga kembali mengisi mimpi-mimpiku beberapa hari terakhir. Dialah Eang, sahabat kecilku.

Tanpa aku sadari, butiran bening sudah menumpuk di  pelupuk mataku saat aku mengingat sosoknya. Hanya dengan satu kedipan mata, kristal bening itu pasti sudah membasahi pipiku. Aku menengadahkan kepalaku. Menatap langit biru yang kini menaungi diriku, mencegah kristal bening itu mengalir di wajahku.
Namun, butiran itu tetap bertahan di tempatnya semula. Parahnya, kini aku merasakannya mulai membasahi pipiku.  Dengan kasar kuhapus butiran bening itu. Aku tidak ingin teman-temanku melihat aku menitikkan air mata. Memalukan.
Disaat aku tengah berusaha menghilangkan jejak air mata ini, seseorang  menyentuh pendakku.



“Hai, Dhi!” sapanya.
Aku menoleh kesamping untuk mengetahui siapa gerangan orang yang menyapaku. “Eh, Dion, Hai jaga,” aku balas menyapanya sambil tersenyum.
“Tumben sendirian saja. Tidak bergabung dengan anak-anak perempuan lainnya?”, Dion bertanya sambil mengarahkan matanya ke sekelompok siswi di seberang lapangan yang sedang berkumpul sambil berceloteh ria. Samar, aku mendengar celotehan mereka dari tempatku duduk saat ini.
“Tidak, ah. Aku lagi malas saja bergabung dengan mereka. Habis, obrolan mereka pasti tidak jauh dari shopping di mall dan cowok keren. Bosan,” ,jawabku setengah jujur karena sebenanya bukan hanya itu alasanku tidak bergabung dengan mereka.
Aku ingin ikut bergabung bersama teman-teman lelakiku yang sedang bermain sepak bola. Sudah cukup lama aku tidak bermain perminan itu, jadi kangen sekali rasanya. Namun, aku malu kalau harus mengutarakan keinginanku itu. Aku takut kalau nantinya mereka menertawaiku bahkan mengolok-olokku. Masa anak perempuan bermain sepak bola? Itu kan permainan anak laki. Nanti aku dikira bukan wanita tulen, lagi. Kan memalukan sekali.
Seakan mampu membaca pikiranku, Dion mengerling kearahku sambil tersenyum. “Kamu mau ikut main sama kami, ya?” matanya menatapku sambil menggoda.
“Eehh.. Ti...Tidak kok,” jawabku tergagap.
“Sudahlah, tidak usah mengelak lagi. Dari tadi aku perhatikan matamu terus menatap teman-teman yang sedang main bola. Pasti kamu juga mau ikut bermain, kan?” tanyanya lagi, tetap mempertahankan tatapan menggodanya.
“Ee... Hmmm...,” aku bingung harus menjawab apa. Jawaban jujur atau tidak.
“Kalau kamu memang ingin bermain, katakan saja,” kata Dion sambil menatapku tajam. Mencoba mencari tahu jawaban yang akan keluar dari bibirku.
“Sebenarnya, aku memang ingin ikut bermain bersama kalian,” akhirnya aku memutuskan untuk menjawab dengan jujur. Toh, tak ada gunanya juga jika aku berbohong padanya. Mungkin saja aku diizinkan bermain bersama mereka bila aku jujur.
“Tapi, aku malu. Aku kan anak perempuan. Masa bermain sepak bola? Permainan itu kan untuk anak laki-laki,” tambahku saat Dion tidak juga menggubris pengakuanku.
Perlahan aku melihatnya tersenyum-senyum. Kemudian senyum itu berubah menjadi tawa kecil. “Hmmppfft... Jadi kamu malu bermain sepak bola?” tanyanya masih sambil cekikikan. Aku yang bingung melihat tingkahnya tetap menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Dion.
“Ya ampun, Dhiya. Kenapa harus malu, sih? Sepak bola kan permainan setiap orang. Tak perlu memandang usia dan gender, semuanya bisa terlibat di dalamnya. Jadi, kamu tidak perlu malu,” jelas Dion panjang lebar.
“Kamu yakin kalau aku ikut bermain bersama kalian, teman-teman yang lain tidak akan menganggap aku aneh?” aku masih tidak yakin dengan ucapan Dion, jadi aku menanyakan hal tersebut.
“Percaya deh sama aku. Mereka tidak akan menganggap kamu aneh.” Dion terus meyakinkanku. “Kebetulan Tim-ku sedang kekurangan pemain sebagai pemain sayap. Kamu tidak keberatan, kan kalau aku tempatkan di posisi itu?”
“Tentu saja aku tidak keberatan. Aku siap bila ditempatkan di posisi manapun,” mataku berbinar-binar saat menerima tawaran Dion. Akhirnya aku bisa kembali bermain bola. Ini kesempatan yang sangat berharga!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Dear My Dee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea