Selasa, 15 Januari 2013

SEPATU TERBANG VERSUS BASKET MELAYANG #PART 4


Aku menyaksikannya memainkan bola basket dengan lihai. Men-dribel  bola orange itu dari sudut lapangan menuju ring. Syuuttt... Bola meluncur dengan mulusnya. Masuk. Three point. Aku terpukau dengan permainannya. Caranya men-dribel bola, berlari dari sudut lapangan, dan menembak sangat memesona. Belum pernah aku melihat teman sekolahku yang bermain basket sehebat dia.
“Itu, Dhi, anak baru di sekolah kita. Dia baru pindah dari Surabaya. Namanya Erlang. Keren, kan permainan basketnya?” Rena mengenalkan sekaligus mempromosikan Erlang dengan mata berbinar-binar.
Tidak kuhiraukan ucapan Rena maupun teman-temanku yang lain. Mereka sibuk membicarakan Erlang yang cool- lah, jago bermain basket, tampan, tinggi, bla bla bla. Tatapanku tetap terfokus kepada siluet di tengah lapangan yang sedang memainkan bola basket.



Aku tak menyangka kalau anak laki-laki yang tadi tertimpuk sepatuku adalah anak yang baru saja pindah ke sekolahku. Pantas saja aku tidak pernah melihatnya di sekolah, tapi kenapa tatapan matanya tetap terasa familiar, ya? Sudahlah, aku tidak mau memikirkannya lagi.
Setelah aku membacakan tantangan yang harus aku lakukan, mereka langsung menggiringku ke lapangan basket indoor yang ada di sekolahku. Dengan kejamnya, mereka menyeretku bagaikan bebek yang harus masuk kandang di sore hari di sepanjang koridor gedung selatan. Untungnya gedung selatan hanya berisikan labaratorium, ruang OSIS, ataupun sekretariat Ekskul sehingga meminimalisir orang-orang yang mungkin saja menyaksikan adegan ini.
Aku tidak bisa membayangkan seandainya kelima temanku menyeretku di sepanjang koridor gedung barat karena sebagian besar ruang kelas ada di setiap sudutnya. Bisa-bisa aku sudah menjadi sorotan utama koran sekolah edisi minggu ini bahkan menjadi berita utama. Ampun deh.
Sesampainya kami di lapangan basket indoor, mereka sempat mengenalkan siapa Erlang dan darimana ia pindah kepadaku plus mempromosikan cowok itu,  sebelum akhirnya mereka memintaku memenuhi janjiku dalam permainan tadi.
Kelima temanku itu terus saja mendorongku mendekat ke lapangan. Tepatnya ke arah Erlang. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kutanamkan tekad yang kuat pada diriku. Walaupun masih merasa jengkel dengan sikap angkuhnya di lapangan tadi, rasa bersalah karena dirinya telah tertimpuk sepatu kedsku masih melekat dalam batinku. Akhirnya, aku  tetap melangkahkan kakiku perlahan kearahnya.
Setelah beberapa langkah, kurasakan teman-temanku berhenti mengikutiku dari belakang. Sepertinya mereka menungguku melaksanakan tantangan itu dari pinggir lapangan.
Kutolehkan kepalaku kebelakang untuk menatap kelima temanku yang super usil itu. Mereka melemparkan senyum terbaiknya ke arahku sambil menyembunyikan tawa di wajah masing-masing. Aku yang merasa kesal sekaligus gondok dengan sikap mereka membuang mukaku.
Saat aku menolehkan kepalaku kembali kedepan, aku menyaksikan sebuah benda berukuran cukup besar menerjang kearahku dengan kecepatan tinggi. Aku yang tak tahu harus berbuat apa hanya terdiam terpaku di tempatku berdiri. Benda itu terus meluncur dengan kecepatan setara dengan anak panah yang baru saja dilepas dari busurnya. Dan saat kurasa jarak benda itu dengan wajahku sudah cukup dekat, kupejamkan mataku. Aku tak berani menyaksikan saat benda keras itu menghantam wajahku dengan keras.
Benda yang ternyata bola basket itu terjun menuju permukaan lapangan basket setelah sukses menghantam wajahku hingga merah. Kurasakan wajahku memanas dan mataku berkunang-kunang. Saat aku membuka mata, kulihat wajah yang selama beberapa hari terakhir menjadi bunga mimpiku menatapku dengan cemas. Aku tak mampu berkata-kata karena aku mulai merasakan perlahan-lahan kesadaranku menghilang. Namun, sebelum kesadaran yang kumiliki hilang sepenuhnya, aku sempat mendengar seseorang mengucapkan permintaan maaf. “maaf,” ujarnya lirih. Dan setelah itu semua duniaku menjadi gelap.

Perlahan, kubuka kedua mataku. Kepalaku  masih terasa pening. Aku tak tahu sudah berapa lama tak sadarkan diri. Kuperhatikan keadaan di sekelilingku. Semua masih terlihat buram dalam penglihatanku. Setelah aku merasa penglihatanku telah kembali sepenuhnya, aku tahu kalau aku sedang terbaring di salah satu ranjang di UKS.
Aku mendengar dentingan sendok dan gelas di dekatku. Siapa, ya yang sedang membuat minuman? Segelas teh manis hangat, mungkin. Aku asik mengira-ngira siapa gerangan orang yang telah menolongku setelah aku terkena lemparan basket nyasar itu. Mungkin salah satu dai kelima temanku. Ah, pasti yang menolongku tadi Tiara. Dia kan teman yang paling dekat denganku di sekolah ini. Dan orang yang sedang membuat minuman itu pasti dia. Aku sangat yakin dengan hal itu.
Derap langkah kaki terdengar mendekatiku. Pasti itu Tiara. Aku sudah siap memasang senyum terbaikku kepadanya sebagai ucapan terima kasih. Dan ketika suara itu semakin jelas terdengar, aku menolehkan kepalaku kearahnya.
            “Hai. Makasih, ya, Tia... Ra,” senyumku langsung lenyap saat menyadari orang itu bukan Tiara.....

Nah lho, bukan Tiara? jadi siapa dong? penasaran? tunggu aja gua posrting kisah selanjutnya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Dear My Dee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea