Aku menggiring si Kulit Bundar melewati penjagaan dari setiap pemain lawan yang berusaha menghalangi jalanku. Dengan lincah, aku melakukan manuver-manuver indah yang tidak sembarang orang bisa melakukannya. Kini, tinggal dua pemain lawan yang mencoba menghadangku. Sisanya sudah berhasil aku lewati. Aku memutuskan untuk melakukan shooting langsung ke gawang. Dengan penjagaan yang cukup ketak dari dua orang lawanku, aku mengangkat kaki kananku. Kuayunkan kakiku itu dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang kumiliki. Bola melambung tinggi dan berbelok ke sudut sempit gawang lawan. Sang kipper tidak mampu menjangkau bola tendanganku. Dan akhirnya bola itu berhasil merobek jala lawan. Menciptakan sebuah gol indah dan penentu kemenangan tim-ku pada pertandingan kali ini.
Tanpa aku sadari, disaat yang bersamaan dengan melesatnya bola tendanganku ke arah gawag lawan, sepatu keds yang aku pakai juga ikut melayang. Benda itu berputar-putar sambil mengudara di angkasa layaknya UFO dan akhirnya sepatu kedsku itu berhasil mendarat kembali. Namun, bukan mendarat di permukaan bumi, yaitu lapangan sekolah, melainkan di kepala seorang anak laki-laki yang sedang berdiri di pinggir lapangan. Benturan anatara kedua benda keras itu pun tak bisa dihindari sehingga menghasilkan sebuah dentuman keras.“BUUKKK!!!”
Seketika, aku bersama teman-teman se-timku yang awalnya ingin bersorak menyambut kemenangan tim kami menoleh ke arah suara benturan itu. Mataku terbelalak saat melihat sebelah sepatuku berada di samping tubuh seorang anak laki-laki yang sedang duduk di pinggir lapangan sambil mengusap-usap kepalanya. Wajahnya tertunduk menatap sebuah sepatu di sampingnya.
Aku mengalihkan pandanganku dari sebelah sepatuku yang ada di samping anak laki-laki itu ke wajahnya. Tanpa terduga, saat aku menatapnya anak laki-laki itu juga menoleh ke arahku. Tatapannya begitu menusuk. Ia menatapku dengan mata elangnya yang tajam.
Aku yang tidak siap ditatap seperti itu olehnya hanya mampu menundukkan kepala. Aku yakin, sekarang wajahku sudah merah seperti kepiting rebus. Peristiwa ‘Sepatu Terbang’ tadi pasti sudah disaksikan oleh teman-temanku yang berada di lapangan. Aku malu sekali.
Setelah yakin jika wajahku sudah tidak merah lagi, aku memberanikan diri mengangkat wajahku. Tidak ada satu pun temanku yang mentertawakan aku atas peristiwa yang baru saja terjadi. Aku sadar, hal pertama yang harus aku lakukan adalah meminta maaf kepada anak laki-laki yang telah menjadi koban Sepatu Terbangku.
Aku berjalan perlahan-lahan kearahnya. Hanya tersisa beberapa meter lagi aku akan sampai di hadapan anak laki-laki itu.
“Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Aku tak menyangka kalau sepatuku akan terlepas dari kakiku sehingga terlempar dan mengenai kepalamu,” ujarku sambil terus berjalan kearahnya. Aku meringis sambil menatapnya. Aku melihat dia agak terkejut saat aku menatapnya. Tetapi, tatapan terkejut itu lenyap seketika dikala dia tahu aku menyadari hal tersebut.
Belum sempat aku tiba disana untuk mengucapkan permintaan maaf yang walaupun sudah kukatakan sebelumnya, ia sudah melempar sepau keds itu ke arahku. Refleks, dengan tangkas aku menangkap sepatuku yang dilemparnya. Kutatap dia dengan bingung, tetapi ia hanya melirikku dengan tajam. Dan dengan angkuhnya ia berjalan meninggalkan lapangan, membiarkan aku dan para penonton yang sejak tadi sudah berdiri di sekeliling lapangan sepak bola mengerutkan kening menyaksikan tingkanya yang aneh bin ajaib.
“Dhi? Dhiyaaa...” Tiara teman sekelasku sekaligus teman sebangkuku menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahku tak kala ia melihatku melamun di tengah permainan kami.
“Hmm.. Kenapa, Ra?” tanyaku linglung. Aku tak tahu apa yang baru saja Tiara katakan padaku. Bahkan aku juga tak tahu apa saja yang telah dibicarakan teman-temanku beberapa waktu lalu. Teman-teman yang sedang bermain bersamaku menatapku dengan tatapan bingung. Aku balik menatap mereka dengan tatapan yang sama bingungnya.
“Kamu tuh yang kenapa. Kita lagi asik-asik mendengarkan pengakuan si Rena, kamunya malah melamun,” ujar Liana, temanku yang paling ceriwis.
“Memangnya kamu melamunkan apa, sih? Sampai-sampai kamu tidak mendengar panggilan dari kami,” tanya Tiara sambil menatapku lembut. Aku yakin dia sedang mencari tahu sesuatu yang baru saja aku lamunkan. Walaupun tidak terlalu kentara, aku sangat menyadarinya.
“Tidak, kok. Aku tidak melamunkan apa-apa,” dustaku. Aku tidak ingin teman-temanku tahu isi lamunanku tadi.
“Masih kepikiran peristiwa tadi, ya, Dhi?” Tiara yang memang paling mengenalku diantara semua teman perempuanku bertanya secara terang-terangan. Aku hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa.
“Sudahlah, Dhi. Tidak usah terlalu dipikirkan. Kami semua mengerti, kok. Semua itu hanya sebuah kecelakaan. Kami tidak akan menertawakan ataupun mengolok-olokmu atas peristiwa tadi kalau memang hal itu yang kamu takutkan,” jelas Liana panjang lebar.
Aku hanya tersenyum tipis ke arahnya. Ternyata teman-temanku salah kira. Mereka mengira hal itu yang mengganggu pikiranku sehingga aku tidak berkonsentrasi dalam permainan kami.
Ya, saat ini aku bersama lima orang teman perempuanku sedang memainkan salah satu permainan favorit kami, yaitu Truth Or Dare, dimana setiap pemainnya harus memilih menjawab pertanyaan yang ada dalam gulungan kertas di depan kami dengan jawaban jujur atau melakukan suatu tindakan yang bersifat “nekat”.
Untuk menentukan siapa yang harus mengambil gulungan-gulungan kertas itu, kami menggunakan kartu UNO. Pemain yang kalah harus mengambil salah satu gulungan kertas tersebut. Dan bagi pemenang ia di bebaskan untuk tidak mengambil gulungan kertas.
“Udah, ya. Kamu tidak usah memikirkannya lagi. Semua orang pasti pernah mengalami hal memalukan dalam hidupnya. Jadi, kamu tidak usah khawatir,” Rena memberikan doktrinnya kepadaku. Aku tersenyum ke arahnya. “Baiklah, aku tidak akan memikirkannya lagi,” jawabku akhirnya.
Sebenarnya sedari tadi aku memikirkan anak laki-laki yang tertimpuk sepatu kedsku. Aku yakin kalau aku belum pernah melihatnya di seantero sekolan ini selama dua tahun lebih aku menimba ilmu di tempat ini. Meskipun begitu, aku merasa tatapannya yang tajam dan mata elangnya terasa sangat familiar. Aku berusaha mengingat kapan aku pernah bertemu dengannya, namun aku tak kunjung ingat.
Setelah peristiwa Sepatu Terbang di lapangan sepak bola yang sangat menggemparkan, aku memutuskan untuk kembali bergabung bersama teman-teman perempuanku. Saat aku menghampiri mereka, mereka menawarkanku ikut bermain Truth Or Dare bersama. Tak ada satu pun diantara mereka yang membahas peristiwa tadi. Mungkin untuk menjaga perasaanku. Untuk menghargai usaha mereka menghiburku, aku pun menyetujui ajakan mereka.
“Oiya, sekarang giliran kamu yang memilih, Dhi. Kamu mau pilih Truth atau Dare?” Marsya meningatkan kami semua terutama aku bahwa saat ini giliran aku mengambil gulungan kertas untuk memilih Truth atau Dare.
Aku berpikir sejenak untuk memutuskan pilihanku. Setelah beberapa saat berpikir, aku memutuskan untuk memilih Dare. Aku sedang tidak mood untuk main jujur-jujuran dengan teman-temanku.
“Aku pilih Dare,” Aku pun mengambil satu gulung kertas di sebelah kiriku, tempat tumpukan gulungan Dare berada. Aku memperhatikan wajah teman-temanku yang terlihat tegang. Untuk mendramatisir suasana, kubuka secara perlahan-lahan gulungan kertas itu. Tatapan tegang itu semakin bertambah kala aku mengerutkan alis saat membaca isi gulungan kertas tersebut.
“Kamu harus berkenalan dengan anak baru di sekolah kita,
Kemudian mengenalkannya pada kami semua,” Aku membacakan deretan huruf yang tertera di gulungan kertas itu dengan keras agar teman-temanku dapat mendengarnya. Kerutan di keningku bertambah saat melihat wajah-wajah penuh senyum cerah setelah aku membacakan tantangan yang harus aku lakukan. Tak lama kemudian senyum-senyum itu berubah menjadi sorak sorai yang membahana. Bagaikan perayaan 4 Juli di Amerika. Meriah banget.
Kemudian mengenalkannya pada kami semua,” Aku membacakan deretan huruf yang tertera di gulungan kertas itu dengan keras agar teman-temanku dapat mendengarnya. Kerutan di keningku bertambah saat melihat wajah-wajah penuh senyum cerah setelah aku membacakan tantangan yang harus aku lakukan. Tak lama kemudian senyum-senyum itu berubah menjadi sorak sorai yang membahana. Bagaikan perayaan 4 Juli di Amerika. Meriah banget.
“Yes, akhirnya aku punya kesempatan untuk berkenalan dengan Erlang!” Jerit Liana.
“Eitss... Bukan kamu saja, lagi Li. Aku juga punya kesempatan untuk kenal lebih jauh sama cowok cool itu. Yippie!” balas Rena. Ia berteriak lebih keras dibandingkan jeritan Liana sebelumnya.
“Dhiiiyyyaaa... Thanks berat ya! Berkat kamu kami memiliki kesempatan berkenalan dengan Erlang! Makasih, Dhi,” Marsya mengucapkan terima kasih kepadaku secara berlebihan.
Tiba-tiba kelima temanku sudah berlari kearahku. Tubuhku limbung ke belakang karena tidak siap menerima pelukan yang datang secara tiba-tiba dari mereka.
Sebenarnya ada apa, sih? Siapa Erlang itu? Aku sungguh bingung sebingung-bingungnya. Ada apa lagi ini?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar